Marak Siswa Bully Guru; Orang Tua dan Sekolah Memegang Peran Aktif

decor-big-white.png

Marak Siswa Bully Guru; Orang Tua dan Sekolah Memegang Peran Aktif

Video siswa SMP mem-bully guru viral di media sosial. Dalam video berdurasi 30 detik tersebut, terlihat beberapa murid laki-laki sedang mengerumuni gurunya sambil bernyanyi dan berjoged. Bahkan, salah satu siswa terlihat naik ke atas meja guru. Sang guru terlihat hanya terdiam saja. Belakangan diketahui bahwa video ini di ambil di salah satu SMP swasta yang terletak di Cilincing, Jakarta Utara.

Tak hanya sampai disitu, selang beberapa waktu, muncul kembali sebuah video bernada sama. Dimana seorang anak laki-laki terlihat sedang mempermainkan gurunya di kelas. Ia terlihat memegang kepala guru tersebut sambil berbicara di depan mukanya. Sayangnya, murid yang lain justru asik menertawakan aksi kurang sopan tersebut yang mereka anggap lucu.

Masyarakat dunia maya atau yang kita kenal dengan sebutan netijen merasa geram akan viralya video-video tersebut. Mereka mengaggap bahwa generasi saat ini adalah generasi yang rentan melakukan bully tak hanya pada teman, namun kini sudah meluas hingga ke guru. Beberapa pakar pun ikut angkat bicara. Salah satunya adalah Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi. Ia menduga bahwa hal ini bisa terjadi karena sifat transaparan yang dimiliki oleh generasi milenial. “Sehingga semuanya serba tidak memiliki batasan,” tambahnya. Tak hanya Ratih, pihak KPAI pun merasa prihatin dan menyangkap perilaku siswa tersebut. “Tak semestinya seorang siswa bersikap demikian kepada gurunya,” ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti.

Lantas, apakah penyebab maraknya peristiwa siswa yang mem-bully guru? Muncul beberapa pendapat tentang hal ini dimana kedua belah pihak sama-sama memiliki peran aktif dan memberikan ruang untuk terjadinya bullying.

Pertama, berdasarkan apa yang diutarakan oleh psikolog Ratih Zulhaqqi, generasi saat ini cenderung memiliki batasan yang transparan sehingga batasan antara guru dan murid pun menjadi bias. Banyak murid yang merasa ingin dekat dengan gurunya lantas mereka menjadi pribadi yang diharapkan atau disenangi gurunya. Begitupun sebaliknya, agar guru bisa berbaur dengan murid, banyak guru yang memposisikan diri mereka seolah sama seperti muridnya, agar terlihat seperti teman sebaya. Meskipun demikian, guru dan murid seharusnyan memiliki peran dan status masing-masing. Dimana tetap harus ada batasan yang jelas antara guru dan murid meskipun tidak harus bersifat hirarki dan kaku. Setidaknya, murid harus menyadari bahwa guru berbeda dengan mereka dan harus diperlakukan dengan penuh rasa hormat dan sopan santun.

Kedua, lingkungan sosial kedua belah pihak juga dianggap memegang peran penting. Saat ini, banyak sekali orang yang ingin popular dengan cepat lantas menampilkan sesuatu yang dianggap out of the box. Salahnya, siswa saat ini justru berfikiran bahwa mengolok-olok atau mengerjai guru (prank) adalah hal yang bisa mendongkrak popularitas mereka. Karena mereka dianggap mempunyai power yang lebih tinggi dibandingkan guru mereka.

Ketiga, tentu kurangnya pemahaman siswa tentang sikap hormat kepada guru menjadi ujung tombak munculnya peristiwa seperti ini. Hal ini berhubungan dengan kurangnya paparan anak terhadap pendidikan akhlaq terpuji terutama adab atau cara bersikap terhadap guru. Pembiasaan di sekolah dan di rumah harus dilakukan secara selaras. Tak hanya pihak sekolah yang bertanggung jawab untuk membenahi perilaku seorang siswa, namun pihak orang tua yang ada di rumah pun ikut berperan penting.

Keempat, kurangnya kompetensi pedagogis guru juga bisa menjadi salah satu penyebab munculnya peristiwa ini. Terlihat dari kedua video tersebut, dimana bullying terhadap guru terjadi ketika jam pelajaran di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kemampuan guru dalam menghadirkan kelas yang kondusif dan nyaman untuk belajar. Tak hanya itu, guru juga seharusnya mampu menyajikan pembelajaran yang kreatif dan menarik, sehingga anak-anak di kelas tidak merasa bosan. Diduga, rasa bosan inilah yang membuat anak mencari alternatif lain untuk membuat mereka merasa senang di sekolah, salah satunya adalah dengan mengolok-olok guru.

Menindaklanjuti video di atas, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik bersama jajarannya menyatakan bahwa mereka tidak hanya fokus pada pemberian hukuman terhadap siswa-siswatersebut, tetapi juga mengedepankan pembinaan, baik terhadap siswa, guru maupun pihak sekolah lainnya. Lalu, bagaimana pendidikan akhlaq, yang dianggap sebagai kunci dari peristiwa ini, bisa memegang peran penting dan dijadikan solusi agar tidak muncul kasus-kasus lain yang bernada serupa? Berikut paparannya.

Sebetulnya, apakah pendidikan akhlaq itu? Menurut Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul Tarbiyah Al-Khuluqiyah, pendidikan akhlaq adalah pendidikan mengenai dasar dasar akhlaq yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berhubungan erat dengan moral, etika, dan budi pekerti; yang harus dimiliki dan dijadikankebiasaan oleh anak sejak masa analisa sampai ia menjadi seorang mukallaf (seseorang yang siap mengarungi lautan kehidupan). Sementara tu, ruang lingkup pendidikan akhlaq tidak terbatas pada hubungan manusia dengan Tuhannya, Allah SWT, namun juga termasuk hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan lingkungannya. Melihat pengertian pendidikan akhlaq tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlaq sebaiknya diberikan kepada seseorang semenjak ia masih kecil atau kanak-kanak. Menurut Imam Al-Ghazali sepeeti yang dikutip dari buku Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali yang ditulis olej Fatiyah Hasan, pendidikan akhlaq bisa diajarkan pada anak dengan menggunakan dua metode yakni metode pembiasaan dan keteladanan (pemberian contoh). Hal ini sejalan dengan pendapat Alzena Masykouri, MPsi, psikolog klinis anak dari Klinik Kancil, yang mengutarakan bahwa pembelajaran kepada anak yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh dan pembiasaan.

Pendidikan akhlaq bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan teori belaka, dimana anak diberi tahu tentang makna dan pengertian akhaq terpuji lantas sudah selsai. Sebaliknya, pendidikan akhlaq merupakan sebuah proses pembelajaran yang berlanjut dan dilakukan secara kosnisten atau yang biasa kita sebut dengan pembiasaan. Tanamkan pembiasaan kepada anak untuk senantiasa menghormati guru dan menanamkan sikap sopan santun kepada guru. Hal ini bisa dimulai dengan hal sederhana seperti pembiasaan mengucapkan salam dan mencium tangan ketika bertemu dengan guru.

Dilansir dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, menururt Putri Puji Ayu Lestari, Guru KB Wadas Kelir, mencium tangan bisa menumbuhkan rasa hormat anak terhadap orang yang lebih tua. “Ya, sudah kita ketahui bahwa manfaat salim selain bentuk rasa sayang adalah untuk menghormati orang yang kita tuakan,” ujarnya. Ketika anak melakukan kegiatan mencium tangan, dia akan belajar bahwa ada orang-orang yang harus mereka hormati selain orangtua, salah satunya yani guru mereka di sekolah. Selain itu, dikutip dari laman yang sama, mencium tangan juga bisa menambah kelekatan antara anak dan orang yang biasa mereka cium tangannya. Saat anak-anak melakukan kebiasaan mencium tangan pada guru disekolah, akan timbul rasa percaya dan rasa aman terhadap guru bahwa guru mereka adalah orang yang harus dihormati dan yang akan selalu melindungi mereka saat di sekolah. Melihat banyaknya manfaat yang bisa diperoleh dari pembiasaan mengucapkan salam dan mencium tangan, maka tidak ada salahnya jika sekolah ikut menerapkan pembiasaan ini agar muncul rasa hormat kepada guru di sekolah.

Selain mengucapkan salam dan mencium tangan ketika bertemu dengan guru, kita juga bisa membiasakan anak untuk selalu menggunakan tiga kata ajaib yakni maaf, tolong dan terima kasih. Ketika anak dibiasakan untuk menggunakan ketiga kata ini dalam keseharian mereka, mereka tentu sudah bisa menunjukan rasa hormat dan saling mengahrgai. Tak hanya kepada orang yang lebih tua, namun juga kepada teman sebayanya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa anak adalah pencontoh yang unggul. Dimana segala sesuatu yang ia lakukan adalah hasil tiruan yang sudah ia lihat sebelumnya. Maka dari itu, guru dan orang tua sebagai pihak yang berperan aktif dalam perkembangan anak harus selalu memberikan paparan positif kepada anak. Mengajarkan sesuatu pada anak tidak cukup hanya dengan teori saja, diperlukan praktik nyata yang bisa anak lihat secara langsung. Dalam proses mengajarkan rasa hormat kepada anak, maka perlu dipahami pula bahwa anak harus dapat memahami apa yang mereka dengar dan mereka lihat. Untuk itulah, orangtua dan guru sebaiknya mampu mengupayakan untuk menjadi tauladan yang baik bagi anak. Baik dari segi perilaku maupun tata bicara ketika berkomunikasi bersama dengan orang lain.

Menanamkan rasa hormat pada anak-anak tentunya bukanlah hal yang mudah seperti menjentikan kedua jari ditangan. Diperlukan pengorbanan dan kesabaran serta kerja keras dalam hal mendidik anak-anak agar mampu memiliki dan menanamkan hal ini dalam dirinya. Ujian dan hambatan mungkin akan muncul dalam proses menanamkan sikap ini dalam diri anak. Akan tetapi dengan kesabaran dan ketekunan, semua hal akan bisa diraih dan dwujudkan dengan mudah. Selain itu, keselarasan dan kosistensi dari pihak sekolah maupun orang tua merupakan kunci keberhasilan dari penanaman akhlaq terpuji, salah satunya menghormati guru, pada anak.


Oleh Meitha Herlina Rahman, S.Pd.

Comments

    No Comments

Add Comment

Profile

... Darul Hikam Integrated School is established to give the enlightment (tanweer) through Tarbiyah (education) and ...

Subscribe

Video

Recent Events

No recent event